Wednesday, 15 April 2009

Pelacuran Mahasiswi Di Jogja Mulai Terang-Terangan


Beberapa waktu yang lalu terdapat pemberitaan yang cukup mengge
Beberapa waktu yang lalu terdapat pemberitaan yang cukup menggemparkan dari (lagi-lagi) Jogja mengenai perilaku para mahasiswi jaman sekarang. Dalam pemberitaan tersebut terdapat cerita mengenai para mahasiswi Jogja yang berbugil ria di internet.

Seperti diberitakan harian Meteor, sejumlah mahasiswi Jogja melakukan aksi buka-bukaan di internet. Selain buka-bukaan, mereka juga siap untuk urusan “kencan semalam”. Dalam situs mereka, terpampang pula nama-nama mahasiswi beserta tempat kuliahnya. Entah ini benar atau tidak, sebab, kok berani-beraninya mereka mencantumkan almamater mereka kuliah, apa nggak takut diskorsing, atau dicap sebagai ayam kampus oleh teman-teman mereka? Selain itu, si mahasiswi tersebut juga bisa dihubungi via e-mail.

Dalam situs tersebut dikemukakan pula informasi tempat-tempat mana saja si mahasiswi tersebut biasa mangkal. Mereka dapat ditemukan diantaranya di sebuah kawasan perbelanjaan di Malioboro, Jl. Perwakilan, ataupun kawasan Senisono. Disebutkan oleh harian Meteor bahwa para remaja yang nongkrong di situ rata-rata adalah ciblek (pelacur). Tarif mereka beragam, antara 100 rb-300 rb.

Teringat liburan di Jogja barusan. Ketika mengunjungi seorang teman yang sedang mengikuti diklat disana, teman saya tersebut mengatakan bahwa ia baru saja ditawari oleh seorang sopir taksi mahasiswi High Class, dengan tarif 1,3 juta. And kalo kurang berkenan bisa diganti si mahasiswinya.

Dulu pernah ada sebuah survey yang mengatakan kalau 90 persen mahasiswi Jogja sudah tidak perawan. Entah parameter apa dan metodologi yang kayak gimana yang dipakai oleh lembaga survey tersebut. Tapi melihat fenomena di atas, rasa-rasanya survey tersebut mendekati kenyataan.

Tapi ya tidak heranlah, gimana juga sekarang uanglah yang berkuasa. Melihat kota Jogja yang makin metropolis, tentunya para mahasiswi itu tentunya juga akan menyesuaikan diri terhadap “selera” dan lifestyle yang semakin dinamis di kota Jogja. Sementara mereka sendiri tidak bisa terus-terusan mengandalkan kiriman duit dari orang tua di kampung.

Selain itu kurangnya kontrol terhadap mereka juga dapat menjadikan mereka berperilaku seperti itu. Ketika mereka jauh dari orang tua dan kerabatnya, mereka akan merasa bebas melakukan apa saja tanpa takut ada yang mengawasi. Itu pernah penulis rasakan. Penulis pertama kali mengenal “dugem” justru dari teman kampus penulis yang notabene merupakan “anak kampung” yang lagi kuliah di Semarang, bukan dari anak Semarangnya sendiri. Hal itu karena mereka merasa bebas sebab mereka merasa tidak ada yang mengawasi, jauh dari kampung gitu loh……………………siapa juga yang kenal ma gue disini…………………tenang aja, nama orangtua dan keluarga nggak akan jatuh karena kelakuan gue disini……………………mungkin itu pikir mereka kali ya……

Jadi itulah beberapa dari penyebab fenomena di atas? Ada tanggapan?

2 comments:

  1. maaf,saya rasa tanggapan anda yang mengatakan "Sementara mereka sendiri tidak bisa terus-terusan mengandalkan kiriman duit dari orang tua di kampun" kesan'y anda memojokkan orng pendateng.. justru sebalik'y. karena jauh dari keluarga keinginan untuk melakukan hal2 yang d luar norma orang akan berfikir sekian kali.. karena tanggun'y jawab bertumpu sepenuhnya pada diri'y. kalau mau tahu jogja dateng dulu..jangan cuma menilai dari hasil survey orang lain!!

    ReplyDelete
  2. saya kuliah di jogja biasa aja tuh...lebay banget orang yang ngomong jogja kota pelacur...2 tahun di sini saya merasa nyaman,jogja tak sehancur yang di beritakan...90 persen yang ga perawan ga jelas dasarnya...

    ReplyDelete